“Berawal dari Study Wisata”
Pagi
yang cerah, embun masih membasahi daun-daun di taman sekolahku dan matahari
masih enggan menampakkan wajahnya. Pagi itu aku bersemangat sekali untuk berangkat sekolah, entah kenapa
aku juga tak tahu. Ku kayuh sepeda kesayanganku menuju ke sekolah. Dan seperti
biasa, di jalan aku sudah melihat hiruk pikuk orang-orang berangkat ke pasar,
ke sekolah sepertiku, bekerja, ke sawah, dan masih banyak lagi. Hmm, aku memang
lebih suka naik sepeda daripada diantar ataupun naik kendaraan umum, karena
menurutku aku lebih bisa menghirup udara segar dan menikmati pemandangan yang
indah seperti itu, lagipula sekalian olahraga juga sih biar sehat. Dan seperti
biasa, pagi itu aku melewati sebuah pasar yang sudah ramai oleh penjual dan pembeli.
Aku beberapa kali menjumpai orang yang sedang serius bertransaksi, penjual
makanan dan penjual sayuran yang kelarisan dagangannya. Namun ada juga penjual
yang masih lesu menunggu pelanggannya.
Setelah beberapa lama kemudian aku sampai disekolahku,
SMP N Citra Harapan. Pagi itu kelasku masih kosong, tak seperti biasanya yang
sudah ramai seperti pasar pagi. Entah mereka pergi kemana, tapi kemudian ada
seorang kawanku datang dari ruang aula. Saat ku tanya ada apa di aula, ternyata
disana ada pengumuman bahwa sekolah kami khususnya kelas VIII akan mengadakan
study wisata ke Jakarta. Dan betapa senangnya hatiku.
****
Hari yang ku nanti-nantikan pun tiba. Aku berangkat
diantar oleh orang tuaku dengan tas yang cukup berat. Enggan rasanya membawa
tas seberat itu, tapi gimana lagi, di tas itu banyak barang-barang yang sangat ku
perlukan. Tak sampai 15 menit aku sudah sampai di sekolah, disana sudah ku
lihat teman-temanku yang bersiap untuk berangkat study wisata. Ku lihat satu
per satu wajah teman-temanku, ada yang sangat bersemangat, ada yang sedih
mungkin karena akan berpisah dengan orang tuanya, ada juga wajah yang
biasa-biasa saja dan ada yang sudah tak sabar ingin berangkat. Akupun juga
demikian, aku sudah tak sabar ingin menaiki bus pariwisata yang ada di depan
sekolah yang nantinya akan mengantar kami ke tempat wisata.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya bel pun berbunyi
tanda peringatan untuk berkumpul di halaman sekolah, guna memastikan apakah
semua sudah berangkat ataukah belum. Hari itu mereka memakai baju yang berbeda-beda
namun kelas kami serempak memakai kaos abu-abu, kaos identitas untuk kelas
kami, kelas A.
Setelah berkumpul cukup lama, akhirnya kami keluar
untuk memasuki bus masing-masing yang telah ditentukan. Namun ternyata salah
satu bus ada yang belum datang dan kami harus menunggunya. Menit-menit pertama
waktu menunggu, aku masih bersemangat karena masih mendengar canda tawa
teman-temanku yang kocak abis. Tapi kemudian aku menjadi lelah, letih dan tak
bersemangat lagi. Begitu juga teman-temanku yang lain, walau ada beberapa yang
masih bersemangat pula.
Satu
jam kemudian, bus yang dinanti-nantipun akhirnya datang juga. Rasa letihku
tiba-tiba hilang tak tahu kemana dan telah terisi dengan rasa bahagia beserta
semangatku yang kembali lagi. Semua sudah berlari menuju bus karena takut tak
kebagian tempat duduk. Sementara aku malah hanya berjalan santai bersama
sahabatku. Tapi betapa malangnya saat aku masuk ke dalam bus, semua tempat
duduk sudah terisi dan hanya deretan paling belakang yang diduduki oleh siswa
laki-laki saja yang kelihatannya masih kosong. Semangatku lagi-lagi menghilang
begitu saja. Terpaksa aku harus menumpang
tempat duduk pada kawanku. Tapi untunglah ada guru yang baik hati yang
mencarikan tempat duduk untukku dan sahabatku. Dia adalah Pak Rakka, guru yang
paling diidolakan disekolah kami karena beliau sangat baik hati. akhirnya aku
duduk didepan teman sekelasku Ricky dan Rama. Aku sudah membatin bahwa tak lama
lagi bakal ada keributan. Dan benar saja, tiba-tiba Rama menyiram embun AC yang
berada diatasnya. Aku dan Sandra sahabatku yang tak terima langsung saja
membalasnya, dan perang dingin pun dimulai. Cukup lama kita bersiteru, tapi
kemudian perang itu berakhir karena Pak Rakka mendatangi kami sekedar
memastikan keadaan kami saja. Untung saja, ku kira Pak Rakka ingin memarahi
kami, ternyata tidak.
Malam pun tiba, sejuknya AC bus itu
masih ditambah udara malam itu yang sangat dingin membuatku tak bisa terlelap
tidur. Apalagi malam itu hujan juga turun dengan lebatnya. Tiba-tiba aku
melamunkan sebuah hal yang aku juga tak tahu maksudnya. Dan seakan-akan aku
masuk dalam lamunan sedihku itu. Lamunanku itu seperti kenyataan, namun tetap
saja lamunan itu tak membawaku ke alam mimpi, jutru aku malah tersadar dalam
lamunan itu karena belakangku masih saja mengoceh seperti burung beo. Walau
sempat beberapa kali ditegur oleh salah seorang guru kami, tapi tetap saja
mereka bercanda dan kadang bernyanyi pula. Dan semakin membuat diriku tak bisa
tidur karena suara mereka yang membuat gendang telingaku risih. Malam itupun
kami bertukar-tukar makanan dan akupun juga ikut bercanda bersama mereka. Aku
tertawa dengan lepas, walau kadang ada kata-kata mereka yang tak berkenan
dihatiku. Suasana kebersamaan sangat bisa ku rasakan dan rasanya tak ingin hari
itu cepat berlalu. Tapi kemudian suasana tiba-tiba hening. Mungkin mereka sudah
capek bercanda. Ku menoleh ke belakang ternyata Ricky sudah terlelap tidur.
Namun tiba-tiba aku terkejut saat
Vero datang menghampiri aku dan Sandra, aku mengira ada sesuatu yang penting
yang ingin disampaikannya. Ternyata dia hanya ingin duduk bersama kami. Kami
bertiga akhirnya asyik bercanda sendiri dan lupa akan waktu. Tiba-tiba aku
terkejut lagi saat Ricky bangun dan merusak suasana kami dengan menyiram embun
AC kearah kami, padahal malam itu dingin sekali. Dan kami pun memarahi Ricky.
Tapi tak lama kemudian saat kami ingin tidur tiba-tiba Ricky berteriak cukup
keras “jiiaahhh,, Sany uda ngantuk..!!!”. dan sepertinya banyak yang
mendengarnya. Vero yang jail tiba-tiba menyahuti Ricky.
“ciiieee..ciieee..
Ricky ternyata naksir sama Sany” kata Vero sambil senyum-senyum.
“apa
sih kamu itu Ro, jangan kaya’ gitu dong. Malu-maluin tauk “ kataku dengan
ekspresi takut dan grogi.
“Iya
ya Ro, aku setuju sama kamu. Kayaknya Ricky emang naksir sama Sany deh.
Buktinya dari tadi gangguin Sany terus”, tambah Sandra yang ikut dalam
perbincangan kami dan sepertinya setuju dengan kata-kata Vero.
“Apa
sih kalian ini, aku juga cuman iseng-iseng aja tauk.” Kata Ricky yang sepertinya
juga takut sepertiku.
“Hayo,
ngaku aja deh, hayo hayo !” kata Vero dan Sandra bersamaan.
“Uda..uda
deh. Biasa aja kali. Kan bercanda sama teman sendiri.” Kataku membela diriku
dan Ricky.
Akhirnya perdebatan itu pun
berakhir. Dan akhirnya kami terlelap tidur karena waktu sudah pukul 01:03.
****
Pagi
hari pukul 05.00 kami mampir ke sebuah tempat untuk beristirahat, mandi dan
makan pagi. Pagi itu udara masih dingin sekali di luar, kami menunggu di luar
karena kamar-kamar itu masih dihuni oleh siswa dari sekolah lain. Sambil
menunggunya, kami bercanda lagi, walau mata pun masih lengket dan enggan untuk
berbicara. Tapi tak lama kemudian kami masuk ke kamar sederhana itu. Kamar yang
dilengkapi dengan 2 buah tempat tidur bertingkat, 1 kamar mandi, meja, kursi
dan almari. Aku yang masih lelah dan sambil menunggu giliran mandi, langsung
merebahkan badanku ke tempat tidur itu. Kawan-kawanku pun mengikutiku. Dan ada
pula yang masih sibuk mengurusi HP mereka karena batreinya low. Aku sih tidak
ikut-ikutan, masalahnya aku tidak membawa HP.
Akhirnya
setelah selesai mandi, kami keluar kamar, menghirup udara segar diluar. Tak ku
sangka ternyata diluar ada lapangan yang sangat luas dan ditumbuhi rumput yang
hijau dan begitu subur. Ku hirup udara pagi itu dan ku lepaskan pelan-pelan,
hatiku terasa tenang sekali. Kamipun duduk di tepi lapangan itu, menikmati
indahnya pagi di kawasan Bandung itu. Dan tak terasa kami sudah sangat jauh
dari rumah. Aku bersama Vero dan Sandra asyik berbincang-bincang tentang kejadian
malam tadi, sementara itu Avril temanku yang super narsis itu berfoto-foto ria
bersama Cacha yang tak kalah narsisnya. Sementara Echa asyik ber-es-em-es-an
ria bersama gebetan barunya. Cukup lama kami diluar dan kemudian ada salah
seorang teman kami memanggil kami agar menuju aula gedung itu untuk sarapan
pagi.
Setelah
selesai sarapan, kami pun kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke tempat
wisata. Aku begitu bersemangat dan begitu juga teman-temanku yang lain. Astaga,
aku bertemu lagi dengan Ricky, anak paling jail di kelasku. Tapi tak apalah,
didepannya aku merasa cukup nyaman dengan canda tawa yang di buatnya. Walau
kadang aku pengen marah sama dia, tapi susah juga marah sama dia. Ricky anak
yang jail dan super kocak itu. Dan lagi-lagi dia membuatku marah karena
kejailannya yang kelewat batas.
****
Cukup
lama menempuh perjalanan akhirnya kami sampai ke tempat wisata yang pertama, di
TMII. Disana kami hanya masuk ke PP-IPTEK saja, melihat-lihat foto seorang
penemu, melihat benda-benda unik serta wahana yang lain lagi. Puas
berjalan-jalan disana, kamipun melanjutkan perjalanan ke Monas, salah satu
obyek wisata yang terkenal di Jakarta. Rasa-rasanya aku masih tak percaya jika aku
sudah berada di Jakarta, aku masih merasa berada di sekitar tempat tinggalku.
Hummm..
tiba disana cuaca panas sekali, gerah rasanya. Malangnya lagi, saat
berjalan–jalan naik turun tangga. tiba-tiba aku terjatuh, dan ditertawakan oleh
teman-temanku. Sakit yang aku rasakan masih ditambah pula dengan tertawaan itu
membuatku malu sekali. Tapi akhirnya sakit itu hilang saat Ricky mengulurkan
tangannya dan membantuku untuk bangkit. Aku tak menyangka orang sejail itu mau
menolongku. Semuanyapun kembali melihat kami berdua dan menyoraki kami
“ciiiiieeee…ciiiieee..romantis amat sih kalian”. Tapi aku tetap diam saja
karena aku seperti sudah terbiasa oleh hal itu, sementara Ricky yang menanggapi
perkataan teman-teman kami dengan tenang dan cukup santai.
Setelah
puas, akhirnya kami melanjutkan ke Planetarium dan Gelanggang Samudera. Menikmati
film 3D, aksi-aksi hewan yang tingkahnya menyerupai manusia, dll. Heran deh,
hewan saja bisa berhitung, masa manusia masih ada yang nggak bisa, malu nggak
ya mereka.
***
Setelah
matahari mulai terbenam, suara adzan mulai berkumandang. Aku bersama
kawan-kawanku singgah di masjid untuk melaksanakan shalat maghrib. Setelah itu
kami kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Marina untuk makan
malam saja dan gagal menikmati Pantai Marina karena waktu sudah malam dan
waktupun memaksa kami agar cepat-cepat pulang. Selesai makan kami diberi
kesempatan untuk beristirahat, namun kami menggunakan kesempatan itu untuk
jalan-jalan.
Tak
lama kemudian kami kembali masuk ke bus. Sepertinya hari-hari itu, bus adalah
rumah untuk kami, setiap pergi kemana pastilah kembali ke bus lagi. Didalam bus
semua wajah cukup kusut seperti baju yang belum disetrika saja, Sudah tak ada
semangat yang terlihat. Semuanya sudah cukup lelah dan semangat mereka juga
sudah tak nampak lagi. Malam itu suasana hening, tak ada yang berbicara.
Semuanya tidur.
Pagi
harinya pukul 03.00 WIB aku terbangun, temanku pun juga ikut terbangun namun
kemudian dia tidur lagi. Aku melihat keluar jendela. Ternyata jalan yang
dilalui berkelok-kelok dan tikungannya pun tajam. Beberapa kali kami hampir
terjatuh, tapi untunglah kami masih berpegangan tangan. Namun kemudian mataku
kembali terpejam, tapi tiba-tiba aku terbangun lagi, melihat keluar melalui
celah-celah jendela yang sudah tertutup korden dingin itu. Sekilas ku lihat
tempat itu seperti daerah dekat tempat tinggalku, beberapa kali ku gosok-gosok
mataku, tapi ternyata aku salah lihat. “Tempat itu masih sangat jauh dari
rumahku, yah aku salah lihat gara-gara mataku masih lengket, lagipula busnya
berjalan cukup cepat masak juga sudah hampir sampai, kan nggak mungkin pula”,
batinku dalam hati. Huh, pikiran orang baru tidur memang aneh sekali. Tapi
kemudian aku menengok ke belakang lagi, ternyata Ricky juga sudah tidur nyenyak.
“Hmm, kenapa sekarang aku jadi perhatian sama dia sih ? padahal dia kan jail
banget sama aku. What jangan-jangan aaa..kuuu jatuh cinta sama dia ? oh my god”
beribu pertanyaan mulai berkecambuk dipikiranku, aku merasa bingung sekali
dengan jalan pikiranku itu.
Kemudian
pukul 06.00 kami sampai ke tempat untuk istirahat. Pagi itu hujan turun
rintik-rintik membuatku enggan untuk turun, walau banyak yang turun untuk
istirahat ataupun ke toilet. Tapi aku malah asyik bercanda dengan Ricky dan
Rama. Tapi saat bercanda dengan Ricky, aku merasa bahagia sekali dan tak ku sangka
hatiku menjadi berdegub kencang tak seperti biasanya. Aku merasakan
getaran-getaran yang luar biasa. “Apa aku jatuh cinta ?” tiba-tiba pertanyaan
itu muncul dipikiranku.
Cukup
lama kita bercanda, asyik sekali rasanya, karena tak ada juga orang yang mengganggu
kami. Entah Sandra pergi kemana, yang disampingku sekarang tak ada siapa-siapa.
Namun kemudian Cacha menghampiriku, menemaniku yang sendirian. Kami akhirnya
bercanda berdua tanpa ada Sandra. Tapi kemudian ku terlelap tidur cukup lama.
Saat ku terbangun tiba-tiba yang duduk disampingku bukan Cacha lagi, tapi Fandy
yang duduk disampingku. Tapi kemudian Fandy kembali ke tempat duduknya lagi,
dan kembali lagi aku mengintip melalui celah-celah tempat dudukku kebelakang
memastikan keadaan Ricky, tapi ternyata dia juga tidur. Tak lama kemudian aku
kaget dengan siraman air ke tubuhku, ternyata Ricky menyiram embun AC lagi.
Akupun kemudian membalasnya.
Pagi
menjelang siang itu suasana cukup ramai. Mereka sudah asyik bercanda
sendiri-sendiri. Dan diiringi oleh lagu-lagu nostalgia oleh pak sopir membuat
teman-temanku ikut menirukan lagu itu, walau sebenarnya mereka juga tak
mengenal lagu itu, maklum lagu itu tercipta sebelum kami lahir. Tiba-tiba aku
kaget karena Ricky meneriakkan nama salah seorang teman kami ke dekat
telingaku, dan akupun merasa risih. Aku menegurnya, namun dia masih saja tak
mendengarkannya. Dia malah lebih keras lagi meneriakkannya. Huh, tiba-tiba aku
merasakan getaran-getaran itu lagi. Dan sepertinya aku memang telah jatuh cinta
dengannya.
Tapi
saat aku hampir sampai rumah aku sangat berharap saat masuk besok aku dan dia
masih memiliki rasa yang sama. Sangat ingin sekali diriku.
****
Tapi
sepertinya benar, saat masuk sekolah pagi itu Ricky tersenyum padaku, senyum
yang special buatku, karena
sebelumnya aku tak pernah melihat Ricky tersenyum seperti itu. Dan saat kelas
kami mendapat giliran menjadi petugas upacara, kami berlatih di halaman
sekolah. Aku diam-diam memperhatikan Ricky dan ternyata aku melihat Ricky juga
memperhatikanku. Hatiku berdegub begitu kencang lagi. Tapi aku tak sangka, ada
temanku yang melihat kami. Dan merekapun memojok-mojokkan kami berdua.
Hmm..
kejadian di bus kemarin ternyata telah membuat kami jatuh cinta. Dan tak pernah
ku sangka, Ricky anak paling jail dan paling kocak di kelas kami, juga
menyukaiku. Setiap bel istirahat berbunyi pasti dia akan menghampiriku,
walaupun dia hanya diam dan tak mengucapkan satu kata pun padaku karena dia
adalah orang yang cuek. Tapi terkadang dia juga mengajakku bercanda walau hanya
beberapa menit saja. Itupun sudah membuatku sangat bahagia. Entah kenapa aku
selalu nyaman ada didekatnya.
Tapi
lama-kelamaan keakraban kami diketahui oleh teman-teman sekelas kami, dan
membuat kami semakin jauh saja. Tegur sapa antara kami kini sangat jarang,
bahkan bisa dibilang kami malah tak pernah tegur sapa lagi, kami seperti tak
pernah mengenal bahkan seperti orang bermusuhan. Hingga akhirnya Ricky
meninggalkanku begitu saja. Hatiku terasa sakit dan hancur beribu-ribu keping.
Orang yang aku sayangi pergi begitu saja tanpa aku tahu penyebabnya. Sungguh
tak menyangka, dan kini hari-hariku tak seperti dulu lagi. Semangatku yang dulu
membara kini tak tersisa sedikitpun, senyumanku yang selalu ku berikan pada
semua orang kini juga menghilang. Dan penyesalanpun kini datang padaku, karena
aku tak pernah mengungkapkan perasaanku padanya sebelum ia pergi. Dan sampai
saat ini aku masih memendam perasaan padanya, dan aku tak mungkin
mengungkapkannya karena kami sudah terlanjur jauh walau ku tahu dia juga belum
mempunyai kekasih.
Komentar
Posting Komentar