Kisah Lama ~
Masih ingatkah saat itu?
Saat semuanya begitu indah, namun entah dengan apa yang kau rasa. Dulu kita seperti bersahabat, bermain kesan kemari bersama dengan yang lainnya. Tapi entah, mungkin hanya perasaanku saja, kamu seperti memiliki rasa yang beda terhadapku. Maaf waktu itu aku hanya tak suka dengan caramu yang telah membuka rahasiaku, hingga aku mendiamkanmu untuk waktu yang lama, entahlah aku begitu enggan melihat wajahmu apalagi berbicara denganmu. Dan waktu itu aku dengar dari Elia (sebut saja dia Elia) jika kamu bilang "El, kalo Putri pasti kesini, pasti nyamperin aku deh. Liat aja nanti" dengan nada sangat berharap. Namun ternyata salah, aku tak menghampiri dia ternyata, dan kata Elia, dia terlihat cukup kecewa. entahlah, tapi aku dan Elia menafsirkannya sebagai rasa yang lebih dari teman.
Itu dulu sewaktu SMP, namun saat memasuki SMA entahlah, aku juga sudah lupa bagaimana aku bisa baikan dengannya. Beberapa waktu lalu, mungkin sudah setengah tahun lebih, dia yang memulai untuk membuat nama panggilan, ya mungkin itu hanya guyonan saja. Kita nyaman menggunakan panggilan itu, dan semakin hari kita semakin dekat. Tapi entahlah, mungkin aku yang salah mengartikan apa yang telah dijalani ini. Hampir setiap hari kita smsan, dan udah cukup lama kita nggak ketemu, waktu itu kamu mengajakku makan di suatu tempat, ya kukira kamu cuma bercanda saja. Namun ternyata tidak, kamu serius mengajakku dan akupun mengiyakannya. Meski aku agak ragu bisa pergi dan bertemu sama kamu. Tapi ternyata Tuhan mendukung. Sore itu, iya hari dimana kita akan bertemu namun hari itu juga Ibuku mendiamkan aku karena suatu hal, aku bingung harus pamit bagaimana, lagipula itu kali pertamanya aku pergi bersama teman laki-laki, sebelumnya aku belum pernah bahkan dengan pacar yang dulu pun belum. Aku memberanikan diri berpamitan ibuku mau pergi ke sebuah tempat.
Setibanya disana kita memesan makanan, mengobrol kesana-kesini. Tapi entah mungkin ini juga hanya perasaanku saja, aku merasa kamu sedikit grogi saat bicara. Kita tertawa bersama, cukup membahagiakan. Namun aku merasa ini biasa saja. Hari ke hari hingga tiba bulan ramadhan, kita masih sering komunikasi. Saat buka puasa kita saling mengucapkan selamat berbuka, sehabis sholat tarawih kita juga saling tanya lagi apa, saat sahur kita juga saling membangunkan. Hingga tiba suatu hari kamu mengajakku buka bersama, ya aku kembali ragu bisa datang. Aku hanya bisa mengusahakannya. Tapi rasanya aku benar-benar malas mau ketemu dia lagi.
Tiba saat hari-H, tapi kamu tidak mengabariku lagi, aku gengsi mau ngingetin. Udah jam 3, tapi nggak ada kabar, jam 4 nggak ada kabar juga, jam 5 nggak ada kabar juga. Sampai akhirnya waktu buka pun tiba, aku coba sms dia duluan, ternyata dia baru ada acara sama temen-temennya. Hatiku sedikit kecewa namun juga merasa lega.
---bersambung---
Komentar
Posting Komentar